Wibawa News


  • 13 Maret 2018 | 17:55 WIB
  • 00033 Kali Dilihat

Sahara Kembangkan Potensi Guru Bahasa Arab di Era Digital

 Sahara Kembangkan Potensi Guru Bahasa Arab di Era Digital

BANDUNG, (WN.net) -- Himpunan Mahasiswa Program Studi (HM-PS) Pendidikan Bahasa Arab (PBA)  mengadakan Semarak Apresiasi Khazanah Arab (Sahara) 2018 yang digelar pada 5-8 Maret 2018. Salah satu rangkaian acaranya adalah Seminar Kebahasaan untuk mahasiswa bahasa Arab, guru bahasa Arab, atau siapa pun yang mencintai bahasa arab. Seminar ini bertempat di Aula Anwar Musaddad, Senin (5/3/2018).

Sahara merupakan kegiatan tahunan yang terdiri atas beragam rangkaian kegiatan, seperti perlombaan nasional arabic short movie, baca berita, esai, puisi, debat bahasa Arab, lagu pop Arab, kaligrafi, hadroh, musabaqoh qiroatil kutub, pidato bahasa Arab, seminar kebahasaan, dan nasyid.

Mengusung tema “Reposisi Eksistensi Bahasa Arab Sebagai Pilar Peradaban Islam”, Ketua HM-PS PBA, Muhammad Miftah Farid Kholilulloh, mengatakan pembeda Sahara tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah peningkatan terus-menerus yang bisa dilihat dari partisipannya. Menurutnya, kali ini lebih difokuskan pada seminar serta dua kategori lomba untuk mahasiswa dan umum.

Ia juga menjelaskan bahwa dengan short movie, mereka ingin memberitahu kepada khalayak, bahasa Arab di tataran internasional dan merupakan syiar tersendiri.

“Sedangkan hadroh gunanya untuk mengasah dalam bidang keislaiyahan, seperti sholawat-sholawat, kemudian ada macam-macam hadroh juga,” terangnya.

Dalam seminar kebahasaan, dosen PBA UIN Malang, Halimi Zuhdy, beserta dosen PBA UIN Bandung, Ilyas Rifai, berbicara sekaligus berbagi tips mengenai pengembangan potensi guru bahasa Arab di era digital. 

Halimi Zuhdy berpandangan bahwa kesan yang terlihat pada guru bahasa Arab adalah kurang informasi, gagap teknologi, tidak ada media bahasa Arab, kurang peduli terhadap perkembangan zaman, dan terlalu fokus pada buku paket.

Ia menambahkan, guru bahasa Arab tetap bisa mengajarkan bahasa Arab kepada murid yang tidak bisa membaca Al Quran, yakni mengajari secara lisan terkait apa yang ada di sekitarnya. Baginya, pemahaman harus didahulukan kemudian memasukkan kaidahnya, agar murid tidak stres. Semua permasalahan bisa disiasati tergantung dari bentuk permasalahannya.

Tidak hanya itu, banyak pesan yang Zuhdy sampaikan, seperti guru bahasa Arab harus memotivasi anak muridnya untuk terus mempelajari bahasa Arab. Bawa anak untuk menyukai bahasanya terlebih dahulu, agar anak termotivasi untuk mempelajari bahasa Arab di mana pun ia berada. Guru bahasa Arab juga harus terus meningkatkan kemampuannya di era digital.

“Empat langkah yang harus dilakukan guru di era digital adalah harus rajin mencari tahu, mencatat, mengaplikasikan apa yang kita cari, dan berbagi terkait apa yang kita dapatkan itu,” pungkas lelaki yang pernah menjuarai lomba puisi bahasa Arab di Palestina tersebut.* uinsgd.ac.id/wnn

Berita Lainnya

  • @ 2016 wibawanwes.net

Portal Berita wibawnews.net