Wibawa News


  • 08 Juni 2018 | 23:02 WIB
  • 00153 Kali Dilihat

Dr. Phil. Gustiana: Siapa pun Bisa Terpapar Radikalisme

 Dr. Phil. Gustiana: Siapa pun Bisa Terpapar Radikalisme
Pembicara dan peserta diskusi dwimingguan yang digagas Eksplorasi Dinamika Analisis Sosial (EDAS), di Bale M Café, Arcamanik Endah, Bandung, Jumat (8/6/2018).* hariyawan

BANDUNG, (WN.net) – Faham radikal (radikalisme) bisa masuk ke wilayah mana pun. Siapa pun bisa terpapar radikalisme. Jangankan mahasiswa, sekelas profesor pun bisa terpapar faham ini, apalagi mereka punya metodologi berpikir sendiri.

Hal ini disampaikan Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) Jawa Barat, Dr. Phil. Gustiana Isya Marjani, antara lain menanggapi pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), yang mensiyalir terdapat 7 perguruan tinggi negeri (PTN) telah terpapar radikalisme, pada diskusi dwimingguan yang digagas Eksplorasi Dinamika Analisis Sosial (EDAS), di Bale M Café, Arcamanik Endah, Bandung, Jumat (8/6/2018).

“Ini terkait perlunya penguatan karakter, jatidiri, wawasan kebangsaan. Untuk itu, diperlukan penggalian kembali nilai-nilai kearifan lokal,” tuturnya.

Terkait penggalian nilai-nilai kearifan lokal, Dr. Phil. mengaku dirinya baru-baru ini telah melakukan penelitian di empat kampung adat di Jawa Barat, yaitu Kampung Adat Mahmud, Kampung Adat Cikondang, Kampung Adat Naga, dan Kampung Adat Pulo.

“Karena waktu terbatas, lokusnya hanya pada empat kampung adat, sementara di Indonesia sendiri terdapat sedikitnya 700 budaya yang memiliki ribuan nilai-nilai kearifan lokal,” kata Dr. Phil., yang menyatakan penelitian singkat itu telah disampaikan dalam bentuk narasi politik ke Wantannas (Dewan Ketahanan Nasional, Red.)

Mengutip pendapat Bibit Waluyo, Dr. Phil., bahwa pada bangsa Indonesia mengalami lima krisis: Pertama, krisis jatidiri, masyarakat Indonesia tidak lagi mampu mengenali dirinya sebagai bangsa. Ke dua, krisis ideologi. Pancasila sebagai ideologi hanya tinggal nama, tidak lagi menjadi ideologi yang hidup dalam perilaku sehari-hari masyarakat Indonesia. Ke tiga, krisis karakter; ucapan, sikap, dan perilaku masyarakat belum mencerminkan karakter bangsa. Ke empat, krisis kepercayaan. Sikap curiga dan meremehkan orang lain menunjukkan betapa manusia Indonesia telah pudar kepercayaannya kepada yang lain. Sikap bandel, sulit diatur dan menginjak-injak norma yang ada menunjukkan ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah. Ke lima, krisis budaya.

Terkait budaya bangsa versus radikalisme, Dr. Phil. melihat agama dan budaya ibarat dua sisi dari mata uang.  Agama dalam bentuknya yang nyata, hanya mungkin tumbuh dan berkembang dalam kontek budaya. Sebaliknya, budaya yang tidak didasari oleh nilai moral , etik, dan spiritualitas luhur yang berasal dari tradisi agama akan kering dan kehilangan arah.

“Sebagai sumber nilai moral, etika, dan spiritual, agama sulit dipisahkan dari budaya manusia.

Itulah sebabnya setiap masyarakat atau komunitas adat tertentu selalu memiliki keunikan masing-masing sebagai akibat dari  kombinasi antara  sistem kepercayaan dan sistem pengetahuan yang dimilikinya,” paparnya.

Diakui Dr. Phil., setidaknya ada tiga faktor yang bisa berperan dalam membentuk budaya masyarakat; perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tingkat atau cara berpikir masyarakat, dan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat.

“Ketiga hal ini saling berkaitan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat terkait dengan tingkat atau cara berpikir masyarakat yang dibangun melalui pendidikan dalam arti luas.

Sementara bagaimana pengetahuan itu diaplikasikan dalam kehidupan umat manusia   sangat bergantung pada sistem nilai atau konfigurasi sistem nilai yang dimiliki, diyakini atau dianggap penting oleh masyarakat itu,” paparnya lagi.

Terkait tema diskusi “Membumikan Pancasila: Cegah Tangkal Radikalisme di Lingkungan Kampus”, Dr. Phil. menyampaikan Pancasila sebagai intisari budaya bangsa: Umat islam sebagai majoriti memberi kontribusi terbesar lahirnya Pancasila, terutama dalam sila ke satu; pada 1984, KH. Ahmad Sidiq secara brilian menempatkan Pancasila sebagai ideologi sepadan dengan Piagam Madinah; semua nilai dalam Pancasila merupakan jati diri, karakter dan budaya, serta kepribadian bangsa Indonesia; kesadaran membumikan Pancasila sebagai solusi untuk menjawab lima krisis yang dihadapi bangsa saat ini (krisis jatidiri, krisis ideologi, krisis karakter, krisis kepercayaan, dan krisis budaya); kesadaran tersebut dijewantahkan melalui pendidikan (sekolah/madrasah dan kampus/universitas).* hy

Berita Lainnya

  • Politik
    18 Juli 2018 | 13:27 WIB

    H. Dadan Konjala: Saya Masih Punya PR

    SOREANG, (WN.net) -- Salah satu dari 55 bakal calon legislatif (bacaleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk anggota DPRD Kabupaten Bandung  pada Pemilu 2019, adalah H. Dadan Konjala. Dia ...

  • Politik
    18 Juli 2018 | 13:21 WIB

    Hari Terakhir Pendaftaran, Ratusan Bacaleg Datangi KPU Kabupaten Bandung

    SOREANG, (WN.net) -- Ratusan bakal calon legislatif (bacaleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung mendatangi Gedung Sekretariat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bandung, Jalan Sindang Wargi, Soreang, Selasa ...

  • Politik
    10 Juli 2018 | 19:10 WIB

    Citra Diri Ridwan-Uu Tarik Basis Massa Partai Lain

    BANDUNG, (WN.net) – Citra diri pasangan calon (paslon) pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018, ternyata mampu menarik basis massa dari partai pendukung paslon yang lain. Terbukti citra diri paslon Ridwan ...

  • Politik
    09 Juli 2018 | 10:06 WIB

    Erna: Menang-Kalah Harus Disikapi Lapang Dada

    SOREANG, (WN.net) -- Pesta demokrasi  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur, Bupati, Walikota, secara serentan baru saja dilaksanakan. Provinsi Jawa Barat sendiri pada Rabu 27 Juli 2018  melaksanakan pemilihan pasangan gubernur ...

  • Politik
    08 Juni 2018 | 21:34 WIB

    Aceng Fikri: Penyebaran Radikalisme di Kampus Telah Berlangsung 35 Tahun

    BANDUNG, (WN.net) – Menanggapi pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), yang mensiyalir terdapat 7 perguruan tinggi negeri (PTN) telah terpapar radikalisme, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) perwakilan ...

  • @ 2016 wibawanwes.net

Portal Berita wibawnews.net